BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Welcome to "Ocean of Mind"

Menelusuri dan Menyelam bersama
"Ocean of Mind"

Kamis, 04 Desember 2008

Latar Belakang Sejarah Psikologi Kepribadian

Sebenarnya usaha untuk menyusun teori dalam psikologi kepribadian telah sejak lama dilakukan. Hasilnya ada yang masih bersifat pra-ilmiah dan ada juga yang nilai ilmiahnya sudah lebih memadai.
1. Usaha-usaha yang masih bersifat pra-ilmiah
Diantaranya yang terkenal, yaitu:

a. Chirologi atau ilmu guratan tangan.

b. Astrologi atau ilmu perbintangan

c. Grafologi atau ilmu tentang tulisan tangan

d. Phisiognomi atau ilmu tentang wajah

e. Phrenologi atau ilmu tentang tengkorak

f. Onychologi atau ilmu tentang kuku


2. Usaha-usaha yang lebih tinggi nilainya

a. Ajaran tentang cairan badaniah
~pendapat Hippocrates, yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran, karena itu tidak heran kalau dia membahas kepribadian manusia dari titik tolak konstitusional. Terpengaruh oleh kosmologi Empedokles, yang menganggap bahwa alam semesta beserta isinya ini tersusun dari empat unsure dasar yaitu : tanah, air, udara, dan api (dengan sifat-sifat yang didukungnya yaitu: kering, basah, dingin, dan panas). Maka Hippocrates berpendapat bahwa begitu pula yang terdapat dalam diri manusia, yang didukung oleh keadaan konstitusional yang berupa cairan-cairan yang ada dalam tubuh manusia:

1. Sifat kering terdapat dalam chole (empedu kuning)

2. Sifat basah terdapat dalam melanchole (empedu hitam)

3. Sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir), dan

4. Sifat panas terdapat dalam sanguis (darah)

Pendapat Hippocrates, bahwa keempat cairan tersebut ada dalam tubuh manusia dalam proporsi tertentu. Apabila cairan-cairan tersebut dalam proporsi selaras artinya orang tersebut normal (sehat), apabila keselarasannya terganggu maka orangnya menyimpang dari keadaan normal (sakit)

b. Pendapat Galenus
Galenus menyempurnakan ajaran Hippocrates tersebut di atas dan membeda-bedakan kepribadian manusia atas dasar keadaan proporsi campuran cairan-cairan tersebut. Sifat-sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang sebagai akibat daripada dominan-nya salah satu cairan badaniah itu oleh Galenus disebutnya temperamen.

Selasa, 02 Desember 2008

Penggolongan Teori Kepribadian

Apabila Dr. George Boeree menggolongkannya berdasarkan pendekatan yang digunakan, maka Pak Sumadi Suryabrata dari Universitas Gajah Mada menggolongkannya berdasarkan kategori-kategori, sebagai berikut :

1. Atas jalan yang ditempuh atau metode yang digunakan dalam menyusun sesuatu teori dalam psikologi kepribadian itu :

a. Atas dasar pemikiran spekulatif (Plato, Kant, Neo-Kantianisme, Bahsen, Queyrat, Malapert, atau yang terutama disusun oleh para ahli-ahli filsafat)

b. Atas data-data dari hasil penyelidikan empiris atau eksperimental (Heymans, Freud, Jung, Adler, Eysenck, Rogers, dll)

2. Atas dasar komponen kepribadian yang digunakan sebagai landasan atau titik tolak dalam penyusunannya :

a. Teori-teori konstitusional (mazhab Italia, mazhab Perancis, Kretschmer, Sheldon, dll)

b. Teori-teori temperament (Kant, Meumann, Enselhans, Heymans, Ewald, dll)

c. Teori-teori ketidak-sadaran (Freud, Jung, Adler, dan pengikut-pengikut mereka)

d. Teori-teori faktor (Eysenck, Cattell, dll)

e. Teori-teori kebudayaan (Spranger)

3. Penggolongan atas dasar pendekatan (approach) :

a. Pendekatan tipologis (typological approach), mis. Plato, Hipocrates-Galenus, Enselhans dan ahli-ahli modern seperti Heymans dan Ewald.

b. Pendekatan pensifatan (trais approach), mis. Klages, Allport, Gogers, Freud, Jung, Murphy, dll.

Para ahli yang berpangkal pada cara pendekatan tipologis beranggapan, bahwa walaupun variasi kepribadian manusia itu tiada terhingga banyaknya, namun variasi yang banyak itu hanya beralas kepada sejumlah kecil komponen-komponen dasar; dan dengan menemukan komponen-komponen tersebut lah dapat dipahami orangnya. Berdasarkan atas dominasi komponen tersebut dilakukan penggolongan manusia ke dalam tipe-tipe tertentu.
Namun, para ahli yang memakai cara pendekatan pensifatan menganggap bahwa cara pendekatan tipologis itu kurang tepat, sebab dengan menggolong-golongkan manusia ke dalam tipe-tipe itu, berarti mengabaikan sifat-sifat khas (individual) yang justru penting dalam psikologi kepribadian.

Ahli-ahli yang menempuh cara pendekatan yang berbeda itu sebenarnya berangkat dari titik yang sama tetapi memakai teknik yang lain; mereka berangkat dari pandangan bahwa kepribadian manusia itu variasinya boleh dikata tak terhingga banyaknya –sebanyak orangnya-, tetapi untuk memahami manusia yang bermacam-macam itu dibutuhkan teknik tertentu.