BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Welcome to "Ocean of Mind"

Menelusuri dan Menyelam bersama
"Ocean of Mind"

Sabtu, 29 November 2008

3 orientasi dalam penyusunan "teori-teori kepribadian"

Ada 3 orientasi dalam menyusun "teori-teori kepribadian" :

1. Psikoanalisis, dalam hal ini terdiri dari 3 pendekatan, yaitu

-Pemikiran Freudian (Sigmund Freud, Anna Freud, dan psikolog ego, Erik Erikson).

-Perspektif transpersonal (yang bernuansa spiritual, diwakili oleh Carl Gustav Jung).

-Sosial psikologis (Alfred Adler, Karen Horney, Erich Fromm).

2. Behavioristik

yaitu melalui pengamatan yang seksama terhadap perilaku dan lingkungan serta relasi keduanya (diwakili oleh B.F. Skinner, Albert Bandura, Hans Eysenck).
3. Humanistik

yaitu mencakup psikologi eksistensial, juga sebagai reaksi terhadap kedua pendekatan di atas. Intinya bahwa jawaban-jawaban atas persoalan kejiwaan harus ditemukan dalam kesadaran atau pengalaman seseorang. Metode yang digunakan jelas saja adalah fenomenologis. Pendekatan ini terbagi lagi dalam 2 bagian, yaitu

- Humanisme murni (yang diwakili oleh Abraham Maslow).

-Psikologi eksistensialis (Ludwig Binswanger dan Viktor Frankl).

Jebakan-jebakan dalam Teori Kepribadian

Ada beberapa jebakan yang penting diperhatikan kalau kita ingin membangun teori sendiri tentang orang dan kepribadiannya, yaitu:

1. Etnosentrisme ~ kebudayaan atau lingkungan yang begitu mempengaruhi kita.

2. Egosentrisme ~ keunikan yang dimiliki pribadi teoritikus itu sendiri

3. Dogmatisme ~ sebagai manusia, agaknya kita punya kecenderungan alamiah untuk bersikap konservatif: kita cenderung berpegang teguh pada apa yang telah berhasil di masa lalu. Dalam menanggapi kritik: cenderung menggunakan logika sirkular dalam mempertahankan pendapatnya.

4. Salah paham ~ setiap kali kita mengatakan sesuatu, tahukah kita sedang membiarkan kata-kata kita dapat ditafsirkan menjadi lebih dari 100 tafsiran?! Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan salah paham, yaitu:

a. Penerjemahan, dalam artian bahasa
b. Neologisme, atau penggunaan istilah/kata baru
c. Metafor


5. Bukti ~ hal ini mengacu pada beberapa bentuk bukti dalam kerangka membangun teori kepribadian:
a. Anekdotal ~ dalam bentuk kisah atau cerita

b. Klinis ~ ketika menjalankan terapi

c. Fenomenologis ~ lahir dari pengamatan seksama terhadap seseorang dalam berbagai keadaan, termasuk kondisi psikologis pengamat itu sendiri.

d. Riset korelasional ~ penciptaan dan pemakaian tes-tes kepribadian

e. Riset eksperimental ~ yang paling terkontrol dan akurat, eksperimentasi mencakup pemilihan subjek secara acak, kontrol melekat terhadap kondisi subjek, perhatian besar terhadap pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan terhadap subjek dan biasanya juga memakai teknik pengukuran dan statistik. Tapi kelemahannya, kadang-kadang tidak mempan terhadap beberapa isu yang justru sangat menarik perhatian teoritikus kepribadian. Bagaimana Anda dapat mengotrol dan mengukur hal-hal seperti cinta, marah atau kesadaran?!

6. Asumsi-asumsi filosofis:

a. Kebebasan vs ketidakbebasan (free will vs determinism)
~Penganut determinisme moderat mungkin akan mengatakan, walaupun kita pada dasarnya terikat keadaan, namun kita dapat peran dalam determinisme itu sendiri. Sementara penganut free will mengatakan bahwa kebebasan adalah hal yang menyatu dengan hakikat kita sebagai manusia, tapi kita harus menerapkan hakikat itu di dalam dunia yang justru mengikatnya.

b. Keunikan vs keuniversalan (uniqueness vs universality)
~Apakah setiap pribadi itu unik, ataukah kita akhirnya akan menemukan sebuah hukum universal yang mampu mejelaskan segala bentuk perilaku manusia?

c. Dorongan jasmaniah vs motivasi tujuan (physiological vs purposive motivation)
~Apakah kita lebih “didorong” oleh kebutuhan-kebutuhan jasmani kita yang paling dasar –seperti makan, air, dan aktivitas seksual-? Ataukah kita justru “ditarik” oleh tujuan, target, nilai, prinsip, dan sebagainya yang ada di depan kita?

d. Motivasi sadar vs motivasi alam bawah sadar (conscious vs unconscious motivation)
~Apakah sebagian, atau bahkan keseluruhan, perilaku dan pengalaman kita dikendalikan oleh daya-daya alam bawah sadar, artinya daya-daya yang tidak kita sadari? Ataukah sebagian, atau bahkan tidak sama sekali, yang dikendalikan oleh daya alam bawah sadar itu?

e. Alami vs buatan (nature vs nurture)
~Apakah kita harus berpatokan pada asal usul genetik (nature) atau pada apa yang kita peroleh dari pengalaman (nurture)?

f. Teori perkembangan bertahap vs teori perkembangan tidak bertahap
~apakah kita semua melewati tahap-tahap perkembangan yang tidak terikat dan ditentukan oleh apa pun. Memang kita semua melewati tahap-tahap perkembangan jasmaniah tertentu –seperti tahap menyusui (fetal), kanak-kanak, pubertas, dewasa, pikun- yang kesemuanya dikendalikan oleh unsure gentik. Apakah dengan begitu hal yang sama juga berlaku pada perkembangan ruhani (kejiwaan)?

g. Determinisme cultural vs transendensi cultural
Sejauh mana kebudayan mempengaruhi kita? Ataukah kita mampu “melangkah keluar” (transendensi) dari pengaruh-pengaruh tersebut?

h. Pembentukan kepribadian dini vs pembentukan kepribadian terlambat
~Apakah karakter kepribadian kita terbentuk waktu kita masih anak-anak, yang kemudian relative tidak berubah sepanjang umur kita? Ataukah karakter kepribadian itu semakin lama semakin rumit seiring pertambahan usia?

i. Pemahaman gangguan jiwa yang kontinu vs pemahaman gangguan jiwa yang diskontinu
~apakah gangguan jiwa adalah persoalan tingkatan? Apakah orang-orang yang sakit jiwa hanyalah orang-orang biasa yang menarik segala sesuatu ke titik ekstrem? Apakah mereka hanya orang-orang eksentrik yang ingin menyakiti dirinya sendiri atau orang lain? Atau sebaliknya, adakah perbedaan kualitatif yang mendasari cara mereka mencerap realitas?

j. Optimisme vs pesimisme
~haruskah kita berharap tentang apa yang akan terjadi sesuai dengan harapan kita ataukah tidak mempedulikannya sama sekali? Haruskah kita mengharapkan datangnya bantuan atau membiarkan segalanya begitu saja?

Welcome to "Personality Theories"

Kepribadian adalah salah satu hal mutlak bagi manusia untuk memancarkan eksistensinya di dunia, terutama dalam mengejawantahkan anugerah manusia sebagai makhluk sosial, baik secara internal ("sosial" untuk dirinya sendiri) maupun secara eksternal (sosial untuk orang lain).

Masing-masing kita punya kecenderungan untuk "tertarik" pada diri sendiri, oleh sebab itu mengapa rubrik Zodiak atau Shio sering menjadi topik bagus untuk dibahas.

Banyak para teoritikus kepribadian yang memaparkan teori-teori serta pemikiran mereka yang bisa dijadikan tolak ukur atau landasan bagi kita dalam penelusuran terhadap orang dan kepribadiannya atau bahkan kepribadian kita sendiri.

Alasan lain kenapa orang mengemukakan teori tentang kepribadian adalah karena mereka menganggapnya sangat mudah dilakukan, dan setiap orang -termasuk mereka yang mengeluarkan teori- dengan sendirinya telah mengetahui apa jawabannya.

Tidak seperti matematika yang berisi presisi teoritis, atau pun berisi sistem simbol yang secanggih dan sesulit kimia atau fisika, teori kepribadian tidak demikian. tambah lagi, setiap orang punya akses langsung kepada apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakannya sendiri dan cukup banyak pengalaman tentang bagaiman pikiran dan perasaan orang lain.

Namun keakraban pengetahuan kita yang keliru inilah, dan begitu sering kita mengira telah mengetahui apa yang sebenarnya, padahal belum tentu seperti itu, akan menjebak kita dalam prasangka dan bias negatif yang kita pegang selama bertahun-tahun. dilihat dengan cara ini, maka masalah teori kepribadian bisa dikatakan sebagai persoalan yang paling sulit dan kompleks dari sekian banyak masalah yang kita hadapi.